Breaking News

Friday, December 28, 2018

UDZUR BIL JAHL BAGIAN PERTAMA


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du
Permasalahan al ‘udzru bil jahl atau toleransi hukum (udzur) terhadap orang yang jahil (tidak mengetahui hukum) merupakan pembahasan yang cukup urgen, sebab masalah ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan insan sehari-hari. Di samping itu, pembahasan ini juga memiliki berbagai macam konsekuensi hukum serta sikap terhadap orang yang mendapat udzur atau tidak. Sehingga, permasalahan ini membutuhkan penjelasan dan pembahasan agar umat Islam tidak keliru dalam menerapkannya. Sebagian orang ada yang begitu toleran dalam hal ini, sehingga pelanggaran apa pun yang diperbuat oleh seorang muslim dianggap sebagai pelanggaran yang tidak menyebabkan kekafiran. Di sisi lain sebagian orang ada yang justru berlebihan, sehingga siapa pun yang melanggar kewajiban agama maka seketika itu dihukumi kafir. Pembahasan ini cukup panjang, sehingga tema ini dibagi menjadi 2 bagian, Bi idznillah. Semoga pembahasan singkat ini bermanfaat  bagi kaum Muslimin.
Pokok Permasalahan
Perlu diketahui bahwa para ulama mengklasifikasikan syariat Islam menjadi dua: dzahir (nampak/jelas) dan khofi (samar/tersembunyi). Meskipun ada ulama lain yang memberikan pembagian dengan istilah yang sedikit berbeda, akan tetapi maknanya hampir sama.
‘Aridhul Jahl; 41-43]
Perbedaan Antara Perkara yang dzahir dan yang khofi 
Yang dimaksud dengan perkara yang dzahir adalah setiap permasalahan Islam yang memiliki kriteria sebagai berikut:
  1. Perkara tersebut sudah diketahui secara seksama bahwasanya ia termasuk bagian dari agama Islam. Sehingga hampir setiap muslim yang berakal pasti mengetahuinya “al-ma’lum min ad-dien bid dzoruroh.”
  2. Perkara tersebut berdasarkan pada dalil yang muhkam(pasti). Artinya tidak ada syubhat atau pun salah takwil di dalamnya.
  3. Permasalahan tersebut sudah menjadi konsensus (ijma’) kaum muslimin serta tercantum dalam nash Alquran ataupun As-Sunnah.
  4. Tidak adanya alasan bagi umat Islam untuk tidak mengetahuinya.
Contoh dari perkara-perkara yang dikategorikan sebagai perkara dzahir adalah: perintah untuk beribadah hanya kepada Allah, tentang kesyirikan yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam (syirik besar, seperti: beribadah kepada kuburan, berdoa kepada selain Allah dll), kewajiban menunaikan rukun Islam (shalat, zakat, puasa, serta haji).
Sedangkan yang dimaksud dengan perkara khofi adalah perkara yang memiliki kriteria sebagai berikut:
  1. Syariat tersebut kurang familiar di kalangan sebagian besar kaum muslimin.
  2. Adanya syubhat yang menyertai landasan (dalil) perkara tersebut
  3. Adanya alasan (udzur) yang menghalangi seorang muslim untuk mengenali perkara tersebut. Misalnya, karena orang tersebut baru masuk agama Islam, atau faktor domisili di tempat terpencil sehingga tidak banyak syariat Islam yang sampai di situ. Yang juga termasuk udzur adalah peliknya permasalahan tersebut bagi kebanyakan kaum muslimin, atau dalam memahami permasalahn tersebut terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahlussunnah sejak zaman dahulu.
 Adakah Udzur Bagi Orang Yang Tidak Tahu? Dalam Hal Ini Perlu Dirinci
 Pertama, Jika udzur yang dimaksud di sini adalah udzur dalam perkara-perkara yang khofi, maka syariat memberikan udzur kepada orang yang jahil dalam perkara khofi. Artinya jika ada umat Islam yang menentang sebagian syariat Islam, atau melakukan pelanggaran terhadap syariat Islam yang disebabkan karena faktor ketidaktahuan, maka ia tidak serta merta dikafirkan selama perkara yang ia langgar adalah perkara-perkara yang khofi. Sebab hampir tidak ada satu orang pun dari umat Islam yang bisa menguasai seluruh disiplin ilmu dalam agama Islam secara terperinci. Itu artinya setiap orang pasti memiliki kekurangan, ada sebagian syariat Islam yang tidak ia ketahui.
Oleh karena itu Islam memberikan keringanan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits: “Jika seorang hakim telah mengerahkan seluruh upayanya untuk menenentukan sebuah hukum kemudian ternyata ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan jika ia keliru maka ia mendapatkan satu pahala.”
[HR. Bukhari: 5352 dan Muslim: 1716]
Dalam hadits ini Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa orang sekaliber hakim (mujtahid) pun masih memiliki kemungkinan untuk keliru, terlebih lagi bagi orang awam. Oleh karena itu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringan kepada mereka. Mereka tidak dijatuhi sangsi atas kekeliruan yang disebabkan faktor ketidaktahuan seperti ini. Bahkan tatkala kekeliruan itu dilakukan oleh orang yang berijtihad, Allah masih memberikan apresiasi terhadap ijtihadnya sekalipun ijtihad tersebut keliru.
Di antara dalil lain yang menunjukkan adanya udzur bagi orang yang jahil dalam perkara khofi adalah keumuman firman Allah Ta’ala: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
[QS. Al Baqarah: 286]
Allah tidak akan membebani hambanya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Oleh karena itu Allah tidak membebani hamba-Nya dengan amalan yang tidak ia ketahui, sebab mengerjakan amalan yang tidak diketahui termasuk perkara yang diuar kemampuan.
Bukti lain yang mengisyaratkan adanya udzur bagi orang yang jahil dalam perkara khofi adalah kisah dalam hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang selalu berbuat dosa. Tatkala ia akan menjemput kematian, ia berpesan kepada anak-anaknya, ‘Jika aku telah mati, maka bakarlah jenazahku, lalu tumbuklah arang jenazahku dan taburkan abunya (di laut, menurut lafal Muslim) pada saat angin bertiup kencang. Demi Allah, jika Allah mampu membangkitkan diriku, tentulah Rabb-ku akan menyiksaku dengan siksaan pedih yang belum pernah ditimpakan kepada seorang pun.”
Ketika orang itu mati, pesannya dilaksanakan oleh anak-anaknya. Maka Allah memerintahkan kepada bumi, “Kumpulkanlah abu jenazahnya yang ada padamu!” Bumi pun melaksanakan perintah Allah, sehingga laki-laki itu pun kembali berdiri secara utuh. Allah bertanya, “Kenapa kamu melakukan tindakan seperti itu?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Rabb-ku, karena rasa takutku kepada-Mu.” Maka Allah mengampuni laki-laki itu.”
[HR. Bukhari no. 3481 dan Muslim no. 2756]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hadits ini jelas-jelas menunjukkan bahwa orang ini yakin bahwa ia tidak akan dibangkitkan jika wasiatnya dilaksanakan. Atau mungkin juga lebih parah dari itu ia ragu dengan adanya hari berbangkit, tentu ini adalah kekufuran. Jika ada orang yang mengingkarinya sedangkan hujah sudah ditegakkan, maka ia bisa dhukumi kafir.
Akan tetapi dalam kasus ini, orang tersebut tidak mengetahui sifat-sifat Allah secara menyeluruh, termasuk juga ia tidak mengetahui sifat qudrah (kemampuan) Allah secara terperinci. Banyak dikalangan kaum muslimin yang tidak mengetahui hal-hal semacam ini, oleh karena itu ia tidak dihukumi kafir.
Majmu’ Fatawa; 11/309-411]
Kedua, Jika udzur yang dimaksud di sini adalah udzur dalam perkara-perkara yang dzahir, maka tidak ada udzur/alasan dalam hal ini. Orang yang melakukan kekufuran dalam perkara yang sudah jelas (dzahir) maka orang tersebut dihukumi sebagai kafir, meskipun ia punya alibi dengan mengatakan ‘saya tidak tahu’. Orang yang menyembah kuburan misalnya, ia adalah orang musyrik kafir meskipun ia beralasan ‘tidak tahu’. Sebab mengesakan Allah dalam ibadah adalah perkara yang dzahir. Ada banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini. Di antaranya adalah:
Firman Allah Ta’ala: “Rosul-Rosul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rosul-Rosul itu diutus.”
[QS. An Nisa: 165]
Ayat ini adalah dalil paling jelas yang menunjukkan bahwa Allah tidak akan menerima alasan orang mengatakan ‘tidak tahu’ setelah Dia mengutus para Rosul-Nya serta menurunkan Kitab-Nya. Sebab dengan diutusnya Rosul dan diturunkannya Kitab, maka berarti saat itu pula hujah sudah tegak.
Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Allah telah mengutus Rosul-Nya dan telah menurunkan Kitabnya agar tidak ada lagi udzur bagi orang yang meminta toleransi.”
[Tafsir Ibnu Katsir; 1/588]
Syaikh Sulaiman bin Sahman mengatakan: “Setiap orang yang melakukan kekufuran dengan perbuatan yang sudah makruf di dalam syariat Islam, semisal beribadah kepada selain Allah, maka Allah telah menegakkan hujah dengan menurunkan wahyu serta mengutus Rosul. Yang demikian itu agar tidak ada lagi alasan (tidak tahu) bagi manusia.”
[Adh Dhiya Asy Syariq, hal. 290-291]
Firman Allah Ta’ala: “Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui kebenaran, karena itu mereka berpaling.
[QS. Al Anbiya’: 24]
Ayat ini menyatakan bahwa kebanyakan kaum musyrikin tidak menngetahui kebenaran. Namun demikian kejahilan mereka ini tidak bisa dijadikan alasan/udzur bagi mereka, sehingga status mereka tetap kafir meskipun mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui. Imam Ibnu  Katsir mengatakan tatkala menafsirkan firman Allah yang artinya, “akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[QS. Yusuf: 40]
Beliau mengatakan, “Karena kebodohan inilah kebanyakan mereka adalah musyrik.” Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya!! Tidaklah seorang dari umat ini, baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku kemudian ia tidak beriman dengan syariat yang aku bawa kecuali pasti ia termasuk penghuni neraka.
[HR. Muslim: 153]
Dalam Hadits ini Rosulullah shalllahu ‘alihi wasallam tidak memberikan udzur kepada siapa pun yang mendengar tentang beliau. Dengan kata lain, hujah dalam perkara-perkara dhahir sudah dianggap tegak hanya dengan mendengar kerosulan beliau.
[fatawa lajnah daimah: 1/528-529]
Dalil-dalil yang menjelaskan tentang masalah ini cukup banyak. Akan tetapi barangkali beberapa dalil di atas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa klaim ‘tidak tahu’ bukan termasuk klaim yang bisa menghalangi vonis kafir dalam perkara-perkara dzahir.
Bersambung…….
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, wa’ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Wallahu’alam Bishawab
Silahkan download Buletin Versi PDF disini:

TERORISME BUKAN AJARAN ISLAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du Faham radikalisme dapat menyebabkan seorang Muslim menjadi tersesat karenan...

Total Pageviews

Search This Blog

Blog Archive

Contact Form

Name

Email *

Message *

Translate

Pages

Most Trending

Designed By Dedy Sumarhadi