Breaking News

Friday, December 28, 2018

KEUTAMAAN PEMILIK ILMU


Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in
Dalam salah satu perkataan Imam besar kaum muslimin, yaitu Imam Al-Bukhari, beliau berkata, “Al-’Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali”, Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala: “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.”
[QS. Muhammad: 19]
Oleh karena itu, mari kita berilmu sebelum berkata dan beramal. Allah Jalla Jalaluhu telah memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hamba-Nya untuk berilmu dan membekali diri dengan ilmu. Demikian juga menurut Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam yang Shahih.
Ilmu yang dimaksud disini adalah Ilmu Syar’i, yang didalamnya terkandung pujian dan sanjungan bagi para pemiliknya. Akan tetapi, tidak diingkari bahwa ilmu lainnya juga mengandung faedah, seperti ilmu duniawi. Tapi faedah ilmu tersebut memiliki dua batasan, yaitu:
Pertama, jika bisa membantu dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan membela agama Allah.
Kedua, jika bermanfaat bagi manusia.
Maka ilmu tersebut merupakan ilmu yang baik dan maslahat. Terkadang, mempelajarinya menjadi wajib dalam kondisi tertentu. Banyak ulama menerangkan bahwa hukum mempelajari ilmu dunia termasuk fardhu kifayah, karena bermanfaat bagi kehidupan manusia pada umumnya, maka hendaklah sebagian mempelajarinya agar membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
Ilmu adalah amal shalih yang paling utama dan ibadah yang paling mulia diantara ibadah-ibadah sunnah, karena ilmu termasuk jenis jihad di jalan Allah, karena sesungguhnya agama Allah hanya akan tegak dengan dua hal:
Pertama, Dengan ilmu dan penjelasan.
Kedua, Dengan perang dan senjata.
Hal tersebut merupakan keharusan. Agama ini tidak mungkin tegak dan menang tanpa keduanya. Poin yang pertama harus lebih dipentingkan daripada poin yang kedua. Oleh karenanya, Rosulullah Shallalahu alaihi wassalam tidak menyerang suatu kaum sebelum sampai dakwah kepada mereka. Jadi, ilmu lebih didahulukan daripada perang.
12 KEUTAMAN PEMILIK ILMU
  1. Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rosul
Rosulullah Shallalahu alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya Para Nabi tidak mewariskan dinar atau  dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.”
[HR. Abu Dawud no. 3641, Tirmidzi no. 2681,  Ahmad no. 5/169, Darimi 1/98]
  1. Ilmu itu abadi, sedangkan harta adalah fana (akan sirna)
Contohnya adalah Abu Hurairah, beliau termasuk sahabat yang faqir, sehingga sering terjatuh pingsan karena menahan lapar. Namun, Abu Hurairah banyak disebut di setiap masa karena keilmuannya dalam periwayatan hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam. Sehingga Abu Hurairah mendapatkan pahala dari pemanfaatan hadits-hadits tersebut. Karena itu ilmu akan abadi, sedangkan harta akan rusak atau sirna. Maka, kita wajib menuntut ilmu dan memegang teguh ilmu. Dalam satu hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Apabila anak Adam mati, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendo’akannya.”
[HR. Muslim no. 1631]
  1. Pemilik ilmu tidak merasa lelah dalam menjaga ilmu
Apabila Allah memberi rizki kepadamu berupa ilmu, maka tempat ilmu itu adalah di dalam hati. Ilmu terpelihara di dalam hati, bukan dalam peti yang terkunci atau lainnya. Dan dalam waktu yang bersamaan, ilmu akan menjaga anda dari bahaya kesesatan dan kebodohan atas izin Allah. Adapun harta, Andalah yang terus menjaganya, bahkan dalam peti terkunci sekalipun, hati anda belum tenang dalam menjaga harta tersebut.
  1. Dengan ilmu, manusia dapat menjadi para saksi atas kebenaran
Allah Ta’ala berfirman: “Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah(sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, demikian juga para Malaikat dan orang-orang berilmu yang tegak diatas keadilan.”  
[QS. Ali ‘Imran:18]
Maka cukuplah menjadi kebanggan bagi para penuntut ilmu, mereka menjadi orang yang bersaksi bagi Allah, bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, beserta para Malaikat menyaksikan keesaan Allah Jalla Jalaluhu.
  1. Ahli ilmu termasuk salah seorang dari dua golongan ulul amri yang wajib ditaati
Perintah Allah Jalla Jalaluhu“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rosul dan Ulil Amri di antara kalian.” 
[QS. An-Nissa’: 59]
Ulil Amri di sini adalah para penguasa, para hakim, ulama dan ahli ilmu. Maka wewenang ahli ilmu adalah menjelaskan syariat Allah dan mengajak manusia untuk melaksanakannya, sedangkan wewenang penguasa adalah menerapkan syariat Allah dan mewajibkan manusia untuk melaksanakannya.
  1. Ahli ilmu adalah orang yang melaksanakan perintah Allah Ta’ala sampai hari kiamat
Dalam hadits Mu’awiyah Radhiallahu Anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya. Aku hanyalah Qasim dan Allah-lah yang memberi. Dan dikalangan umat ini akan senantiasa ada sekelompok orang yang slalu tegak diatas perintah Allah, tidak ada yang akan membahayakan mereka dari orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang urusan Allah.”
[HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 1037]
Imam Ahmad berkata: “Jika mereka (kelompok yang dimaksud dalam hadits) bukan ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu.”
  1. Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak pernah mendorong seseorang agar iri kepada orang lain atas suatu nikmat yang telah Allah karuniakan
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu Anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal; seseorang diberi harta oleh Allah, lalu dia habiskan hartanya itu untuk membela kebenaran, dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya.” 
[HR. Bukhari no. 73, Muslim no. 816]
  1. Ilmu adalah jalan menuju Surga
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Dan barang siapa meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.”
[HR. Muslim no. 2699]
  1. Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah membuatnya faham tentang agamanya
Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Mu’awiyah Radhiallahu Anhu yang telah lalu, Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya.”
Allah menjadikan orang yang faqih tentang agama Allah Jalla Jalaluhu, bukan hanya faqih dalam hukum-hukum amaliyah menurut ilmu fiqih saja, namun juga faqih dalam ilmu tauhid, aqidah dan ushuluddin (pokok-pokok agama), juga ilmu apapun yang berkaitan dengan syariat Allah.
  1. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan hidup seorang hamba
Orang yang berilmu akan mengetahui bagaimana seharusnya beribadah kepada Allah dan bagaimana cara bergaul dengan manusia, maka jalan hidupnya akan slalu berada diatas ilmu dan bashirah (akal sehat).
  1. Orang yang berilmu adalah cahaya yang menerangi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka
Mengambil hikmah dari Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri Radhiallahu Anhu, dari Rosulullah Shalallahu alaihi wassalam.
Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa pembunuh tersebut telah membunuh 99 orang dari kalangan Bani Israil, lalu dia mendatangi seorang ‘abid (ahli ibadah), kemudian dia bertanya, apakah saya bisa bertobat? Ahli ibadah itu menganggap dosanya terlalu besar, sehingga dia menjawab, “Tidak !!!!” lalu dibunuhlah ahli ibadah tersebut. Hingga genap dia membunuh 100 orang.
Kemudian dia pergi lagi, kali ini dia menemui seorang ‘alim (ahli ilmu). Lalu dia bertanya pada ahli ilmu masih dengan pertanyaan yang sama. Dan ahli ilmu tersebut menjawab; bahwa si pembunuh tersebut bisa bertobat dan tidak ada yang bisa menghalangi antara dia dengan tobatnya, dan ahli ilmu tersebut memerintahkan pembunuh tersebut untuk hijrah ke sebuah tempat yang penduduknya berisi orang-orang yang shalih, karena tempat si pembunuh sebelumnya adalah tempat yang penuh kemaksiatan. Kemudian pembunuh itu pun pergi, namun di tengah perjalanan, maut menjemput sang pembunuh tersebut, dan dikisahkan, Allah menerima tobatnya.
Kita dapat mengambil hikmah, bagaimana seorang ahli ilmu dapat menerangi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka.
  1. Allah mengangkat derajat ahli ilmu di dunia dan di akhirat
Allah Jalla Jalaluhu berfirman: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”
[QS. Al-Mujaadilah: 11]
Di akhirat, Allah mengangkat derajat pemilik ilmu sesuai dengan dakwah mereka kepada Allah dan amal yang mereka kerjakan berdasarkan ilmu mereka. Adapun di dunia. Allah akan mengangkat derajat mereka dikalangan hamba-hamba-Nya yang juga sesuai dengan amal mereka.
Demikianlah, paparan singkat tentang Keutamaan Pemilik Ilmu. Semoga menjadi wasilah penyemangat dalam mencari ilmu syar’i, yang kemudian diamalkan dan ajarkan.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, wa’ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Wallahu’alam Bishawab
Silahkan download Buletin Versi PDF disini:

TERORISME BUKAN AJARAN ISLAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du Faham radikalisme dapat menyebabkan seorang Muslim menjadi tersesat karenan...

Total Pageviews

Search This Blog

Blog Archive

Contact Form

Name

Email *

Message *

Translate

Pages

Most Trending

Designed By Dedy Sumarhadi