Breaking News

Monday, December 31, 2018

TERORISME BUKAN AJARAN ISLAM


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du
Faham radikalisme dapat menyebabkan seorang Muslim menjadi tersesat karenanya. Untuk membentengi diri dan keluarga kita dari ajakan atau propaganda radikalisme tersebut, kita harus mempelajari bagaimana aqidah mereka, agar tahu kesesatannya dan terhindar darinya. Propaganda mereka bisa dijumpai dengan mudah di sosial media, sebagai media paling efektif saat ini, yang mereka gunakan dalam memasukan pemikiran-pemikiran sesat mereka. Sejak jaman Rosulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam,sudah muncul seorang tokoh yang berfaham radikal,  dan Rosulullah memperingatkan umatnya tentang kesesatan faham tersebut. Berikut ini penulis sajikan secara singkat asal usul Khawarij.
SIAPAKAH KHAWARIJ

Friday, December 28, 2018

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du
PERSIAPAN DAN RENCANA BERAMAL SHALIH DI BULAN RAMADHAN
Bekal apa yang harus kita persiapkan, yang pertama dan utama adalah ILMU, mulailah membaca kembali kajian kajian fiqih seputar shaum di bulan Ramadhan, Mendengarkan kembali kajian-kajian Islam seputar fiqih di bulan Ramadhan. Kemudian RENCANA. Ya kita harus punya rencana amal shalih apa yang akan kita amalakan dibulan tersebut? Karena tanpa rencana kita tidak punya target dan usaha yang kuat.
Misalkan; rencanakan untuk mengkhatamkan Al Quran, minimal 1x selama bulan Ramadhan, berarti kita jadwalkan 1 hari khatam 1 juz. Rencanakan, untuk bershodaqoh dengan jalan memberi makanan untuk berbuka shaum selama bulan Ramadhan. Yang bisa kita berikan lewat panitia ta’jil, atau kita serahkan langsung ke masjid. Rencanakan, menghadiri majlis ilmu, yang diselenggarakan sebulan penuh, menjelang berbuka shaum, di masjid-masjid yang biasa kita menimba ilmu disana, atau ada istilah juga pesantren kilat Ramadhan. Rencanakan, mengikuti shalat tarawih bersama imam di masjid sampai selesai, selama 1 bulan penuh. Rencanakan, belanja untuk kebutuhan lebaran, seperti baju dan makanan, selesai sebelum 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Agar kita tidak itikaf di mall-mall di malam lailatul qadar, yang kita cari keutamaan malam 1000 bulan tersebut disetiap tahunnya hanya satu malam saja. Rencanakan, itikaf di Masjid di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Rencanakan, berzakat fitrah sebelum mudik atau lainya agar tidak telat atau lupa membayar zakat fitrah. Dan yang tak kalah baiknya adalah, rencanakan memberi hadiah kepada orang tua kita, misalkan baju baru atau parcel yang bisa membuat hati orang tua kita bahagia. Juga berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar kita dan tetangga kita.
RAMADHAN ADALAH BULAN DITURUNKANNYA AL QUR’AN
Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk bershaum dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Allah Ta’ala berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia bershaum pada bulan itu.” [QS. Al Baqarah: 185]
Ibnu Katsir Rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan shaum yaitu bulan Ramadhan dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimussalam.” [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2/179]
SETAN DIBELENGGU, PINTU NERAKA DITUTUP DAN PINTU SURGA DIBUKA
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” [HR. Bukhari No. 3277, Muslim No. 1079]
Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti shaum dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.”  [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/188]
TERDAPAT MALAM YANG PENUH KEMULIAAN DAN KEBERKAHAN
Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah Ta’ala berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” [QS. Al Qadr: 1-3]
Dan Allah Ta’ala juga berfirman: ”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” [QS. Ad Dukhan: 3]
Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari Rahimahullah[Tafsir Ath Thobari, 21/6]
Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.[Zaadul Masiir, 7/336-337]
BULAN RAMADHAN ADALAH SALAH SATU WAKTU DIKABULKANNYA DO’A
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” [HR. Al Bazaar, dari Jabir bin ‘Abdillah. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami’ul Ahadits, 9/224]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang bershaum sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. [HR. At Tirmidzi no. 3598. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini Hasan]
An Nawawi Rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang bershaum untuk berdo’a dari awal ia bershaum hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang bershaum ketika itu.” [Al Majmu’, 6/375]
An Nawawi Rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang bershaum ketika ia dalam keadaan bershaum untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.” [Al Majmu’, 6/375]
SAMBUTLAH BULAN RAMADHAN
Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin! Sambutlah bulan Ramadhan dengan senang dan gembira. Niatkan untuk memperbanyak ketaatan serta lebih mendekatkan diri Kepada Nya. Berusahalah melakukan ibadah-ibadah dan bertaubat dari kejelekan dan dosa. Dan hendaklah kita shaum pada bulan Ramadhan karena dasar iman dan dengan mengharap pahala. Niscaya Allâh Azza wa Jalla akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu.
Dalam hadits yang shahih, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa shaum di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka Allâh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhâri No. 38, 1901, Muslim No. 760]
Di bulan yang berkah ini setan-setan dibelenggu. Pintu-pintu Surga dibuka sedangkan pintu-pintu neraka Jahim ditutup. Para penyeru hidayah pun berseru, wahai kaum Muslimin! Marilah menuju ketaatan kepada Allâh! Marilah kita menggapai keridhaan Allâh! Sambutlah agar dibebaskan dari neraka! Marilah menuju surga!
Dalam sebuah hadits, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila awal malam dari bulan Ramadhan (telah tiba) ditutuplah pintu-pintu neraka dan tidak ada satupun pintu yang dibuka, dan dibuka pintu-pintu surga, tidak ada satupun darinya yang ditutup. Penyeru (dari malaikat) pun berseru, ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan! Sambutlah! Wahai orang-orang yang menginginkan keburukan! Tahanlah! Dan Allâh mempunyai orang-orang yang akan dibebaskan dari neraka, dan hal itu ada pada setiap malam sampai bulan Ramadhan berakhir.”[HR. At-Tirmidzi No. 682, Ibnu Majah No. 1642, Ibnu Khuzaimah No. 1883, Ibnu Hibban No. 3435, dishahihkan oleh Al-Albani]
Maka penuhilah panggilan para penyeru kebaikan dan ketaatan ini! Jawablah seruan mereka dengan shaum kita. Jawablah seruan mereka dengan jiwa yang bersih yang menginginkan balasan yang ada di sisi Allâh, dan dengan hati yang dipenuhi rasa takut yang tidak menginginkan perkara-perkara yang dimurkai Allâh Azza wa Jalla . Dan berbekallah kalian di bulan kalian ini dengan segala amalan yang dapat menambahkan kedekatan kepada Rabb! Isilah waktu-waktu kalian di bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih, dengan bertasbîhtahmîdtahlîltakbîr, membaca Al-Qur’an, juga menjaga shalat wajib lima waktu dengan berjamaah. Jadikanlah malam-malam di bulan Ramadhan ini kalian isi dengan shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir dan berdoa.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Barang siapa shalat (malam) di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka Allâh mengampuni dosa- dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari No. 37, 2009 dan Muslim No. 759] 
Raihlah berbagai keutamaan di bulan tersebut, wahai Saudaraku! Semoga Allah memudahkan kita untuk semakin meningkatkan amalan shalih di bulan Ramadhan dan Allah menerima amal shalih kita sebagai kebaikan disisi Allah kelak.
Wallahu’alam Bishawab
Silahkan download Buletin Versi PDF disini:

HUKUM MENGHINA NABI DAN AJARANNYA


Bismillah was shalatu was salamu ‘alarasulillah, amma ba’du
Seringkali kita saksikan begitu mudahnya sebagian orang mengolok-ngolok saudaranya yang ingin menjalankan syaria’t. Ada yang berjenggot diolok-olok dengan jenggot kambing. Ada pula yang mengenakan cadar diejek dengan sebutan Ninja. Seharusnya setiap muslim tahu bahwa perbuatan seperti ini bukanlah dosa biasa. Simak pembahasan berikut agar mendapat penjelasan. Hanya Allah yang memberi taufik.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” [QS. At-Taubah 9: 65-66]
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah, hadits dengan rangkuman sebagai berikut. Disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”
(Mendengar hal ini),‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Maka ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi hanyalah bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”
Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada didalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah): “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu elah kafir sesudah beriman.” [QS.At-Taubah 9 : 65-66]
Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu. [HR. Ibnu Jarir AthThobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim Hasan]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah Ta’ala. Beliau mengatakan bahwa orang tersebut kafir dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” [(QS. At-Taubah 9: 65-66) dinukil dari Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul]
Ayatdi atas menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan ayat-ayat Allah adalah suatu bentuk kekafiran. Dan barang siapa mengolok-olok salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya). [Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59]
Perludi ketahui bahwa mengolok-olok Allah dan agama-Nya ada dua bentuk :
Pertama, yang bentuknya jelas dan terang-terangan sebagaimana terdapat dalam kisah turunnya surat At Taubah ayat 65-66.
Kedua, yang bentuknya sindiran dan isyarat seperti isyarat mata atau menjulurkan lidah. Dan termasuk dalam mengolok-olok adalah mengolok-olok orang yang komitmen dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengatakan, ‘agama itu bukanlah pada tampilan rambut’. Perkataan ini dimaksudkan untuk mengejek orang-orang yang berjenggot. Atau termasuk juga ucapan-ucapan yang lainnya yang hampir sama. [Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan,hal. 62]
Berikut ini kami akan menukilkan perkataan ulama lainnya untuk mendukung pernyataan diatas:
Perkataan Pertama, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin Rahimahullah, seorang ulama besar dan faqih di Saudi Arabia pernah ditanyakan,“Apakah termasuk dalam dua ayat yang disebutkan sebelumnya [yaitu surat At Taubah ayat 65-66] bagi orang-orang yang mengejek dan mengolok-olok orang yang memelihara jenggot dan yang komitmen dengan agama ini?”
Beliau Rahimahullah menjawab: “Mereka yang mengejek orang yang komitmen dengan agama Allah dan yang menunaikan perintah-Nya, jika mereka mengejek ajaran agama yang mereka laksanakan, maka ini termasuk mengolok-olok mereka dan mengolok-olok syariat (ajaran) Islam. Dan mengolok-olok syariat ini termasuk kekafiran.
Adapun jika mereka mengolok-olok orangnya secara langsung (tanpa melihat pada ajaran agama yang dilakukannya baik itu pakaian atau jenggot), maka semacam ini tidaklah kafir.Karena seseorang bisa saja mengolok-olok orang tersebut atau perbuatannya.Namun setiap orang seharusnya berhati-hati, jangan sampai dia mengolok-olokpara ulama atau orang-orang yang komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah(petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, Darul ‘Aqidah, hal. 120]
Perkataan Kedua, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazrahimahullah, pernah menjabat ketua Lajnah Da’imah (Semacam Komite Fatwa MUI) dan juga pakar hadits, pernah ditanyakan, “Saat ini banyak di tengah masyarakat muslim yang mengolok-olok syariat-syariat agama yang nampak seperti memelihara jenggot, menaikkan celana di atas mata kaki, dan selainnya. Apakah hal ini termasuk mengolok-olok agama yang membuat seseorang keluar dari Islam?Bagaimana nasihatmu terhadap orang yang terjatuh dalam perbuatan seperti ini? Semoga Allah memberi kepahaman padamu.”
Syaikh Rahimahullah menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa mengolok-olok Allah, Rasul-Nya,ayat-ayat-Nya dan syariat-Nya termasuk dalam kekafiran sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” [QS. At-Taubah 9: 65-66]
Termasuk dalam hal ini adalah mengolok-olok masalah tauhid, shalat, zakat, puasa, haji atau berbagai macam hukum dalam agama ini yang telah disepakati. Adapun mengolok-olok orang yang memelihara (memanjangkan) jenggot, yang menaikkan celana di atas mata kaki (tidak isbal) atau semacamnya yang hukumnya masih samar, maka ini perlu diperinci lagi. Tetapi setiap orang wajib berhati-hati melakukan perbuatan semacam ini.
Kami menasihati kepada orang-orang yang melakukan perbuatan olok-olok seperti ini untuk segera bertaubat kepada Allah dan hendaklah komitmen dengan syariat-Nya.Kami menasihati untuk berhati-hati melakukan perbuatan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan syariat ini dalam rangka taat kepada Allah danRasul-Nya. Hendaklah seseorang takut akan murka dan azab (siksaan) Allah serta takut akan murtad dari agama ini sedangkan dia tidak menyadarinya. Kami memohon kepada Allah agar kami dan kaum muslimin sekalian mendapatkan maaf atas segala kejelakan dan Allah-lah sebaik-baik tempat meminta. Wallahu waliyyut taufiq. [Lihat Kayfa Nuhaqqiqut Tauhid, Madarul Wathon Linnashr, hal.61-62]
Perkataan ketiga, Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa di Saudi Arabia) no. 4127 tentang mengolok-olok hijab (jilbab) muslimah.
Pertanyaan: Apa hukum orang yang mengolok-olok wanita yang memakai hijab (jilbab) syar’i dengan menjuluki bahwa wanita semacam itu adalah ifrit (setan) atau dijuluki ‘kemah yang bergerak’ atau ucapan olok-olok lainnya?
Jawaban: Barang siapa mengejek muslimah atau seorang muslim yang berpegang teguh dengan syariat Islam maka dia kafir. Baik mengejek tersebut terhadap hijab (jilbab) muslimah yang menutupi dirinya sesuai tuntunan syariat atau boleh jadi dalam masalah lainnya. Hal ini dikarenakan terdapat riwayat dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Seorang laki-laki ketika perang Tabuk berkata di suatu majelis (kumpulan) : Aku tidak pernah melihat semisal ahli baca al-Qur’an (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya) yang paling perutnya buncit, sering berdusta dengan lisannya, dan paling takut (pengecut) ketika bertemu musuh.” Lalu ada seseorang yang berkata: ’Engkau dusta. Engkau adalah munafik. Sungguh, aku akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Kemudian berita ini sampai kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam dan turunlah ayat mengenai mereka. Lalu Abdullah bin ‘Umarberkata, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana untaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kakinya tersandung batu sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami tadi hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (dengan membawakan ayat yang turun tadi), “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya danRasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat),niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [QS.At Taubah 9: 65-66]
SEGERA BERTAUBAT
Setelah diketahui bahwa bentuk mengolok-olok atau mengejek orang yang berkomitmen dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk kekafiran, maka seseorang hendaknya menjauhinya. Dan jika telah terjatuh dalam perbuatan semacam ini hendaknya segera bertaubat. Semoga firman Allah Ta’ala berikut bisa menjadi pelajaran: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” [QS. Az Zumar 39:53]
Jika seseorang bertaubat dari berbagai macam dosa termasuk berbagai hal yang dapat mengeluarkannya dari Islam dan dia melakukan hal ini dengan memenuhi syarat-syaratnya, maka taubatnya tersebut akan diterima.
Adapun syarat taubat adalah:
  1. Taubat dilakukan dengan ikhlas dan bukan riya’ atau sum’ah (ingin dipuji orang lain).
  2. Menyesal dengan dosa yang telah dilakukan.
  3. Tidak terus-menerus dalam dosa. Jika meninggalkan yang wajib, segeralah melaksanakannya dan jika melakukan sesuatu yang haram, segeralah meninggalkannya.
  4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di waktu akan datang.
  5. Taubat tersebut dilakukan pada saat waktu diterimanya taubat yaitu sebelum kematian datang dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. [Lihat pembahasan syarat Taubat di Syarh Riyadhus Sholihin, SyaikhMuhammad bin Sholih Al Utsaimin]
Semoga kita menjadi hamba Allah yang bertaubat dan hamba Allah yang disucikan. Amin Ya Mujibad Da’awat.
Wallahu’alam Bishawab
Silahkan download Buletin Versi PDF disini:

KEUTAMAAN DAN AMALAN BULAN SYABAN

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in
            Ada beberapa hadits shahih yang menunjukkan keistimewaan di bulan Sya’ban, di antara amalan tersebut adalah memperbanyak shaum sunnah selama bulan Sya’ban. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shaum, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak shaum. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shaum secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau shaum yang lebih banyak daripada shaum di bulan Sya’ban.” 
[HR. Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156]
Aisyah radhiallahu ‘anha, mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.”
[HR. Bukhari no. 1970, Muslim no. 1156]
Aisyah radhiallahu ‘anha, mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau bershaum ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.”
[HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shaum, no. 2.325, hlm. 2/744]
Usamah Bin Zaid  radhiallahu ‘anhu mengatakan: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk shaum padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” 
[HR. Abu Dawud no. 2076]
Hadits-hadits di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak shaum di bulan Sya’ban, melebihi shaum di bulan lainnya.
Hikmah Shaum Bulan Sya’ban
Ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak shaum di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang shaum ini.
Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadits dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda bershaum dalam satu bulan sebagaimana Anda bershaum di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi bershaum.” 
[HR. An Nasa’i, lihat buku Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425]
Memperbanyak Ibadah di Malam Nishfu Sya’ban
Ulama berselisih pendapat tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:
Pendapat pertama, tidak ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban mengatakan, “Para ulama ahli hadits dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadits shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban.”
[Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33]
Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadits dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadits yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadits).”
[At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11]
Sementara riwayat yang menganjurkan ibadah khusus pada hari tertentu di bulan Sya’ban untuk bershaum atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, haditsnya lemah bahkan palsu. Di antaranya adalah hadits yang menyatakan: “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan bershaumlah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.”
[HR. Ibnu Majah no. 1/421, HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman no. 3/378]
Keterangan:
Hadits ini dari jalan Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini statusnya hadits maudhu’/palsu, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Abi Sabrah yang tertuduh berdusta, sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Taqrib . Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentangnya, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”
[Silsilah Dha’ifah, no. 2132.]
Mengingat hadits tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan bershaum di siang harinya tidak sah dan tidak bisa dijadikan dalil, maka para ulama menyatakan hal itu sebagai amalan bid’ah dalam agama.
[Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884.]
Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadits shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
[HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani]
Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadits yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…”
[Majmu’ Fatawa, 23:123]
Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…”
[Lathaiful Ma’arif, Hal. 247]
Kesimpulan:
  1. Nishfu Sya’ban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadits ini hadits yang dhaif, namun insyaAllah yang lebih kuat adalah penilaiannya Syaikh Al Albani bahwa hadits tersebut statusnya shahih.
  2. Tidak ditemukan satupun riwayat yang menganjurkan amalan tertentu ketika nishfu Sya’ban. Baik berupa puasa atau shalat. Hadits di atas hanya menunjukkan bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam nishfu sya’ban, kecuali dua jenis manusia yang disebutkan dalam hadits tersebut.
  3. Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama Tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah.
  4. Ulama yang membolehkan memperbanyak amal di malam nishfu Sya’ban, mereka menegaskan bahwa tidak boleh mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendirian di malam ini. Karena tidak ada amalan sunnah khusus di malam nishfu Sya’ban. Sehingga, menurut pendapat ini, seseorang dibolehkan memperbanyak ibadah secara mutlak, apapun bentuk ibadahnya.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, wa’ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Wallahu’alam Bishawab
Silahkan download Buletin Versi PDF disini:

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN SHALAT


Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in
Shalat adalah ibadah Mahdhah yang syarat dan rukunnya sudah ditentukan. Ibadah shalat bersifat Tauqifiyah. Karenanya, perintah Shalat ada dalam nash Al Quran, adapun gerakan shalat dijelaskan dengan detil dalam As Sunnah Shahihah, tidak ada celah bagi manusia untuk menambah atau menguranginya. Shalat juga menjadi pembeda antara Muslim dan Kafir. Adapun syarat diterima ibadah adalah terbebas dari kesyirikan yaitu beribadah dengan penuh keihlasan, kemudian mengamalkannya sesuai yang Rosulullah contohkan. Sebagaimana bunyi sebuah hadist. “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” 
[HR. Al-Bukhari No. 628, 7246 dan Muslim No. 1533]
Shalat memiliki banyak sekali keutamaan. Diantara keutamaan tersebut, penulis rangkum dalam 11 keutamaan shalat, disertakan juga sumber ayat dan haditsnya:
  1. Shalat Mencegah dari Perbuatan Keji
“Bacalah kitab Al-Quran yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & munkar. Dan ketahuilah, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
[QS. Al-Ankabut: 45]
  1. Shalat adalah Sebaik-baik Amal Setelah Syahadatain
“Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Rosulullah menjawab: Mengerjakan shalat pada waktunya, kemudian apa? Kemudian berbakti kepada orang tua, kemudian apa? Beliau menjawab: kemudian berjihad dijalan Allah.”
[Shahih, HR. Bukhari No. 527, Muslim No. 58/139]
  1. Shalat Dapat Mencuci dan Membersihkan Kesalahan-kesalahan
“Perumpamaan shalat 5 waktu itu seperti sungai yang mengalir dan penuh air didepan pintu salah seseorang diantara kalian. Dia selalu mandi disungai itu 5x sehari.”
[Shahih, HR. Muslim No. 668]
  1. Shalat Dapat Menghapuskan Dosa-dosa Kecil
“Shalat 5 waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dari bulan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dapat menghapus berbagai kesalahan (dosa kecil) yang terjadi diantara semuanya jika ia menjauhi dosa-dosa besar.”
[Shahih, HR. Muslim No. 233/16]
  1. Shalat Menjadi Cahaya Bagi Pelakunya, Baik di Dunia Maupun di Akhirat
“…. Dan shalat itu adalah cahaya….”
[Shahih, HR. Muslim No. 233, Ahmad V/342-343, Tirmidzi No. 3517, An-Nasai V/5-8, Ibnu Majah No. 280, Ad-Darimi I/167, dan selainnya]
Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan kaki ke masjid-masjid dikegelapan malam dengan cahaya (nuur) yang sempurna pada hari kiamat.”
[Shahih, HR. Abu Dawud No. 561, Tirmidzi No. 233]
  1. Dengan Shalat Allah akan Meninggikan Derajat dan Menghapus Kesalahan
“Engkau harus memperbanyak sujud (shalat), sesungguhnya engkau tidak bersujud sekali saja kepada Allah, kecuali dengan sujud itu Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahan darimu.”
[Shahih, HR . Muslim No. 488/255]
  1. Shalat Menjadi Salah Satu Sebab Masuk Surga Sekaligus Menjadi Teman Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam Didalamnya
“Bantulah aku untuk mengabulkan permintaanmu dengan banyak bersujud.”
[Shahih, HR. Muslim No. 489]
  1. Berjalan Menuju Tempat Shalat (Masjid) Akan Dicatat Baginya Kebaikan-kebaikan , Ditinggikan Beberapa Derajat dan Dihapuskan Kesalahan-kesalahan
“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian berangkat ke rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu kewajiban yang diperintahkan Allah maka salah satu dari tiap-tiap dua langkahnya akan menghapuskan kesalahan dan yang lainnya akan meninggikan derajat.”
[Shahih, HR. Muslim No. 666]
  1. Akan Disediakan Jamuan Di Surga Setiap Kali Seseorang Muslim Berangkat ke Masjid untuk Menunaikan Shalat Baik Pagi Maupun Sore Hari
“Barang siapa berangkat ke masjid pada pagi/sore hari, maka Allah menyediakan baginya jamuan di surga, setiap kali datang pada pagi/sore hari.” 
[Mutafaq Alaih, HR. Bukhari No. 662, Muslim No. 669]
  1. Pahala Orang yang Berangkat Menunaikan Shalat Sama Seperti Orang yang Berhaji dan Berihram
“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk mengerjakan shalat wajib maka pahalanya adalah seperti pahala orang yang mennunaikan ibadah haji dan ihram…”
[Shahih, Abu Dawud No. 558]
  1. Barangsiapa Berangkat ke Masjid, Lalu Ia Mendapati Orang-orang Telah Selesai Mengerjakan Shalat Bermaah, Maka Baginya Pahala Orang yang Shalat Berjamaah
“Barangsiapa yang wudhu lalu membaguskan wudhunya, kemudian menuju Masjid tapi ia dapati orang-orang telah shalat, maka Allah memberinya pahala orang yang shalat dan menghadirinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”
[Shahih, HR. Abu Dawud No.564, An-Nasai No. 11/111]
Adapun Acaman Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat:
  1. Orang yang Menyia-nyiakan Shalat Diancam Mendapat Kerugian & Kejelekan Dihari Kiamat
“Maka datanglah kepada mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka itu akan menemui kesesatan.”
[QS. Maryam: 59]
  1. Orang yang Meninggalkan Shalat Diancam Tidak Bisa Sujud Disaat Manusia Bersujud Dihadapan Allah Dihari Kiamat
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tertunduk kebawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesunguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukannya).”
[QS. Al-Qalam: 42-43]
  1. Orang yang Menyia-nyiakan Shalat Diancam dengan Mendapat Gelar Sebagai Orang-orang Musyik
“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertawaqallah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”.
[QS. Ar-Ruum: 31]
  1. Orang yang Meninggalkan Shalat Akan Diancam denga Neraka Saqar
“Apakah yang memasukkan kamu kedalam saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu (di dunia) tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”.
[QS. Al-Muddatsir: 42-43]
Orang yang meninggalkan shalat telah berbuat dosa besar yang paling besar, lebih besar dosanya disisi Allah daripada membunuh jiwa, mengambil harta orang lain, lebih besar dosanya dari dosa zina, mencuri dan meminum khamr. Orang yang meninggalkan shalat akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah di dunia dan di akhirat.
[Lihat kitab Ash-Shalaah wa Hukmu Taarikiha (hlm. 29) karya Imam Ibnul Qayyim]
Bahkan orang yang meninggalkan shalat lebih jelek daripada pencuri, pezina, peminum khamr dan penghisap ganja.
[Majmuu’ Fataawaa (XXII/50)]
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, wa’ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Wallahu’alam Bishawab
Silahkan download Buletin Versi PDF disini:

TERORISME BUKAN AJARAN ISLAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du Faham radikalisme dapat menyebabkan seorang Muslim menjadi tersesat karenan...

Total Pageviews

Search This Blog

Blog Archive

Contact Form

Name

Email *

Message *

Translate

Pages

Most Trending

Designed By Dedy Sumarhadi