Skip to main content

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

Segala puji bagi Allah Jalla Jalaluhu, Pemilik langit dan bumi beserta isinya, juga Rajanya di hari pembalasan. Shalawat dan Salam teruntuk manusia terbaik yaitu Rosulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya Radhiallahu Anhum.

PENGERTIAN SHALAT BERJAMAAH


Yang dimaksud dengan shalat berjamaah adalah mengerjakan shalat secara bersama-sama/berjamaah.
[Jawahir Al Iklil, 1/17]

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH


Shalat berjamaah memiliki beberapa keutamaan yang agung, sehingga Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam memerintahkan dan menjelaskannya dalam banyak hadits, diantaranya hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhum, Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendiri, sebanyak dua puluh tujuh derajat.”
[Shahih,HR. Al Bukhari No. 645 dan Muslim No. 650] 


Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu Anhu, Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Shalat bersama jamaah menyamai dua puluh lima shalat dan apabila dikerjakan di tanah lapang dengan menyempurnakan ruku’ dan sujudnya maka menyamai lima puluh shalat.”
[Hasan,HR. Abu Daud No. 560 dan Ibnu Majah No. 788 dan Al Hakim (1/208)] 


Dari Ustman bin Affan Radhiallahu Anhu, Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa berwudhu dan membaguskan wudhunya, kemudian berjalan menuju shalat fardhu dan mengerjakannya bersama orang-orang atau bersama jamaah atau di masjid, maka Allah mengampuni dosa-dosanya.”
[Shahih,HR. Muslim No. 232, An-Nasa’i (2/111) dan Ahmad (1/67)] 


Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu secara marfu’, “…yang demikian apabila berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian keluar menuju masjid tidak lain kecuali untuk shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kaki satu langkah kecuali akan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya. Maka apabila dia mengerjakan shalat malaikat pun bershalawat atasnya selama belum selesai shalatnya, “Ya Allah berilah keselamatan kepadanya dan karuniakanlah rahmat kepadanya” dan ketika dia dalam keadaan menunggu shalat maka dia akan mendapatkan pahala shalat.”
[Shahih, HR. Al Bukhari No. 647 dan Muslim No. 649] 


Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Rosulullah Shallalahu Alaihi Wassalam bersabda: “Kalau saja manusia mengetahui apa yang ada (keutamaan) dalam adzan dan shaf pertama kemudian tidak mendapatkannya kecuali harus dengan melakukan undian, maka pasti mereka saling mengundi, dan apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam “berangkat awal” maka mereka pasti berebut, dan apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat Isya dan Subuh, maka mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak."
[Shahih,HR. Al Bukhari No. 615 dan Muslim No. 437] 


Dari Utsman bin Affan Radhiallahu Anhu, bahwa Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa shalat Isya secara berjamaah maka seolah-olah dia shalat setengah malam, dan barangsiapa shalat Subuh dengan berjamaah, seolah-olah dia melakukan shalat semalam suntuk.”

[Shahih,HR. Muslim No. 656, Abu Daud No. 555, At-Tirmidzi No. 221, Ahmad (I/58)] 

Shalat jamaah adalah ajaran pokok dan syiar agama Islam, sehingga apabila seluruh penduduk kota meninggalkannya, maka mereka harus diperangi, dan apabila ditinggalkan oleh seluruh penduduk desa, maka mereka harus dipaksa untuk mengerjakannya.
[Al Mughni 2/176) dan Al Majmu’ (4/193)]


HUKUM SHALAT BERJAMAAH BAGI LAKI-LAKI


Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum shalat berjamaah bagi laki-laki muslim, pada intinya ada dua pendapat, yaitu:

Pendapat Pertama, Shalat berjamah hukumnya Wajib bagi setiap laki-laki kecuali ada udzur yang syar’i. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Musa, demikian juga oleh Atha’, Al Auza’i dan Abu Tsaur, juga merupakan pendapat Ahmad, Ibnu Hazm, serta dipilih oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dengan ada sedikit perbedaan pendapat diantara mereka, mengenai apakah itu merupakan syarat sah shalat atau tidak?
[Al Mughni (2/176), Kasyaf Al Qana’ (I/454), Al Bada’i (1/155), Al Muhalla (4/188) dan Majmu’ Al Fatawa (23/239)]


Mereka berdalil dengan ini:

Firman Allah Ta’ala: “Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabat mu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka.” 

[QS. An-Nissa 4 : 120] 

Mereka menyatakan bahwa Allah memerintahkan mereka shalat berjamaah dalam keadaan takut, maka dalam keadaan aman lebih utama dan wajib. Kemudian dalam shalat Khauf dihilangkan beberapa amalan agar lebih mudah berjamaah, kalo saja shalat berjamaah tidak wajib, maka tidak mungkin beberapa amalan boleh ditinggalkan sebab perintah shalat berjamaah. Firman Allah Ta’ala: “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” 
[QS. Al Baqarah 2 : 43]

Perintah untuk ruku bersama maksudnya adalah shalat berjamaah, dan suatu perintah konsekuensinya adalah wajib untuk dikerjakan. Hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, telah datang seorang yang buta kepada Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam seraya berkata: ”Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku tidak mendapatkan penuntun yang menuntun ku menuju masjid. Kemudian dia memintanya untuk mendapatkan keringanan shalat dirumahnya saja, maka diizinkan, tetapi ketika hendak pergi, di dipanggil kembali oleh Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan beliau bersabda: “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (adzan?) dia menjawab, Ya. Maka beliau bersabda: Datangilah panggilan shalat tersebut !.”
[Shahih,HR. Muslim No. 653, An-Nasa’i (2/109), dan lainnya] 


Hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Demi Dzat Yang jiwa ku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku telah berniat kuat untuk memerintahkan mengumpulkan kayu bakar dan menyalakannya, kemudian aku perintahkan untuk dikumandangkan adzan dan menegakan shalat, lalu aku perintahkan seseorang untuk menjadi imam, kemudian aku pergi menuju orang-orang yang meninggalkan jamaah, untuk aku bakar rumah-rumah mereka. Dan demi Dzat Yang jiwa ku berada ditangan-Nya, kalau saja mereka tahu bahwasannya mereka akan mendapatkan daging atau dua daging paha yang lezat maka mereka pasti akan mendatangi shalat Isya.”[Shahih, HR. Al Bukhari No. 644 dan Muslim No. 651]

Mereka berkata, dalil ini jelas menerangkan bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, sebab seandainya hanya sunnah, maka tidak akan diancam dibakar, dan apabila hanya fardhu kifayah, maka cukup Rosulullah dan para shahabatnya saja yang melakukannya.

Pendapat Kedua, Shalat berjamaah bukan fardhu ‘ain. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti; Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dengan sedikit perbedaan yaitu apakah sunnah atau sunnah muakkadah, atau fardhu kifayah? Dalil mereka sebagai berikut: 


Hadits Yazid Ibnuz Aswad yang mengisahkan dua sahabat yang shalat dirumah, kemudian datang ke masjid, maka Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Janganlah lakukan seperti itu! jika kalian sudah mengerjakan shalat di kemah kalian, kemudian kalian mendapati shalat jamaah di masjid, maka shalatlah bersama mereka, karena akan terhitung sebagai shalat sunnah bagi kalian.”
[Shahih, Abu Dawud No. 575-576, At-Tirmidzi No. 219, An-Nasa’i (II/112-113), Ahmad (IV/160-161), Al Hakim (I/244-245) dan lainnya] 


Hadits Abu Musa, Rosulullah Shallallahi Alaihi Wassalam bersabda: “Sebesar-besarnya pahala dalam shalat adalah yang paling jauh, dan yang lebih jauh jalannya, dan orang yang menunggu shalat kemudian shalat bersama imam, maka lebih banyak pahalanya daripada yang shalat kemudian tidur. Dalam lapadz Muslim disebutkan, Hingga shalat berjamaah bersama imam…”
[Shahih, HR. Al Bukhari No. 651 dan Muslim No. 622] 


Hadits Ibnu Umar, Rosulullah Shallalahu Alaihi Wassalam bersabda pada perang Khaibar:

“Barangsiapa memakan tumbuhan ini, maksudnya bawang putih, maka hendaknya tidak mendekati masjid kami.”

[Shahih, HR. Al Bukhari No. 853 dan Muslim No. 561]
Hadits mengenai seseorang yang shalat bersama Muadz, lalu karena bacaannya terlalu panjang maka kemudian mundur, lalu shalat sendiri, lalu mengadu kepada Rosulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan beliau tidak mengingkarinya.

[Shahih, HR. Al Bukhari No. 853 dan Muslim No. 561]

Yang paling mengarah pada kebenaran dalam masalah ini adalah dengan menggabungkan semua dalil tersebut, sebagai jalan terbaik. Dengan demikian shalat berjamaah adalah Fardhu Khifayah, sebagaimana pendapat imam Syafi’i. Ini adalah yang paling tengah dan paling benar, dengan catatan bahwa tidak ada seorang pun yang menyepelekan dan meninggalkannya tanpa ada udzur.


Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, wa’ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Wallahu’alam Bishawab

Silahkan download Buletin Versi PDF disini:

Buletin Islamic Education Social Media Edisi Ke-2